Selasa, 28 Desember 2010

Seni dan Estetika olahraga pencak silat

Seni dan Estetika olahraga pencak silat

Posted by taufik_altry
II.1 Pengertian Seni dan Estetika dalam olahraga pencak silat
Istilah “estetika”(aesthetics) berasal dari bahasa Yunani, aisthesis yang berarti ‘pencerapan indera’ (sense perception) atau aisthetika yang artinya ‘sesuatu yang dapat diserap dengan pancaindra’. Estetika sendiri disebut juga sebagai “filsafat keindahan”(philosophy of beauty).
John Hospers (1982) menyejajarkan filsafat seni dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti filsafat bahasa, filsafat kebudayaan,filsafat pendidikan. Secara khusus,filsafat ini sebenarnya berbicara tentang seni: ada seni lukis,seni pahat,seni musik,seni tari,seni sastra, seni drama,seni film,seni arsitektur. Meskipun berbeda objek materialnya, filsafat seni sering kali disamakan begitu saja dengan filsafat keindahan (estetika).
Misalnya karya Gordon Graham,Philosophy of the Arts: An Introduction to Aesthetics (1997). Baginya, estetika adalah sebuah usaha untuk meneorikan seni,menjelaskan apa itu seni dan apa saja yang berkaitan dengannya (1997:2). Dalam Encyclopedia Americana (1973), estetika merupakan cabang filsafat yang berkenaan dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni.
Sedangkan dalam Dictionary of Philosophy (1975), estetika merupakan cabang filsafat yang menyangkut keindahan atau hal yang indah, khususnya dalam seni,dan dengan cita rasa serta ukuran-ukuran nilai baku dalam menilai seni. Estetika menelaah tentang keindahan, keindahan dalam alam dan pada seni, keindahan khusus pada seni, cita rasa, ukuran nilai baku dalam menilai seni, keindahan dan kejelekan, nilai estetis, benda estetis dan pengalaman estetis.
Sehingga, seni dan estetika dalam olahraga pencak silat adalah sesuatu yang dapat dicerna oleh panca indra yang berupa unsur seni serta keindahan dalam setiap gerakan yang dilakukan dalam olahraga pencak silat tersebut.
II.2 Sejarah Pencak Silat
Menurut Wikipedia Indonesia Pencak Silat atau Silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.
Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara.
Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas, yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005) berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat. Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.
Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
II.3 Istilah dalam Pencak Silat
a.    Sikap dan Gerak
Pencak silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat.
b.    Teknik
Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Praktisi biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi, dan lain-lain.
c.    Jurus
Pesilat berlatih dengan jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan tehnik-tehnik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh.
II.4 Aspek dan bentuk
Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:
1.    Aspek Mental Spiritual: Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat jaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
2.    Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan “seni” pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
3.    Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
4.    Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.
Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa.
Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia.
Organisasi Pencak Silat :
•    PERSILAT- Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa
•    IPSI – Ikatan Pencak Silat Indonesia
•    PESAKA Malaysia – Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia
•    PERSISI – Persekutuan Silat Singapore
•    EPSF – European Pencak Silat Federation
Sampai saat ini Anggota Organisasi Pencak Silat yang sudah terdaftar/tercatat di PERSILAT sebanyak 33 organisasi di seluruh dunia.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Pencak Silat  adalah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh. Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).
Istilah “estetika”(aesthetics) berasal dari bahasa Yunani, aisthesis yang berarti ‘pencerapan indera’ (sense perception) atau aisthetika yang artinya ‘sesuatu yang dapat diserap dengan pancaindra’. Estetika sendiri disebut juga sebagai “filsafat keindahan”(philosophy of beauty).
Sehingga, seni dan estetika dalam olahraga pencak silat adalah sesuatu yang dapat dicerna oleh panca indra yang berupa unsur seni serta keindahan dalam setiap gerakan yang dilakukan dalam olahraga pencak silat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Donn F. Draeger (1992). Weapons and fighting arts of Indonesia. Rutland, Vt. :      CharlesE.Tuttle.Co.<ahref=”http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/97808
Quintin Chambers and Donn F. Draeger (1979). Javanese Silat: The Fighting Art of  PORSIGAL.
http://www.joomlashack.com
http://www.uin-suka.info/pksi
http://id.wikipedia.org
http://www.CIPSID.org
http://www.silatcenter.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar